Panen Emas Hutan Amfoang
Hari semakin gelap karena mentari telah menghilang di ufuk barat. Di sebuah gubuk terlihat tiga lelaki yang sedang berbincang sambil mengunyah sirih pinang. Nampak bibir mereka berwarna merah karena hasil memamah sirih pinang, itulah ciri khas orang Amfoang.
"Kemarin ketong pi Neanetaug di sana beta liat sarang lebah dong su bisa untuk ketong panen." Ucap Pak Fiktor membuka pembicaraan.
"Ko memang sekarang su bulan November, jadi ketong su bisa pi panen sarang lebah." Jawab Pak Nimrot.
"Kermana kalo lusa ketong bakastau ko pi panen sarang lebah su, beta dengar-dengar bilang sekarang kalau dong jual ni harga madu Amfoang tu Rp 75.000,00 per liter. Lumayan kalau ketong pi panen lebah ko pulang beta bisa beli kasih Sandy hp, bilang sekarang dong sekolah online jadi harus ada hp." Sahut Pak Nelis sembari terus mengunyah sirih pinang.
"Beta mana-mana sa, kalau mau pi na besok ketong su harus siap memang bahan-bahan dengan bekal. Pasti ketong pi bisa satu atau dua minggu na." Jawab Pak Nimrot menyetujui saran Pak Nelis.
"Ingat harus kastau Om Sarus ko pi na dia yang natau." Kata Pak Fiktor.
"Itu biar beta yang urus, kebetulan pulang dari sini nanti beta mau singgah di situ jadi sekalian beta kastau memang." Sambung Pak Nelis.
Waktu terus berputar, pembicaraan terus berlanjut hingga mereka mendapatkan sebuah kesepakatan. Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30 malam ketika mereka bubar.
Sejak tadi mereka berbincang ternyata ada seorang anak laki-laki yang sedang mendengar percakapan tersebut.
"Bapa, tadi beta dengar bilang mau kasih tau Om Sarus ko dia yang natau. Itu natau dia pung arti apa, beta ke sonde pernah dengar itu kalimat." Tanya Sandy meminta penjelasan pada ayahnya.
"Nah ini suh, anak-anak sekarang sonde tau lai tentang tradisi. Bisa-bisa sepuluh tahun ke depan bosong akan lupa ketong pung budaya. Natau itu nyanyian pujian untuk lebah hutan karena dong su hasilkan madu dari bunga-bunga hutan. Terus itu nyanyian ju bertujuan untuk memuji pemilik pohon fanik ju." Jelas Pak Fiktor pada anaknya.
Sandy mengangguk mendengar Penjelasan ayahnya.
"Pemilik pohon fanik itu sapa Bapa?" Tanya Sandy masih belum puas.
"Tergantung dari nonot (marga). Untuk nonot Klali itu dia pung afitin (pemilik pohon fanik) itu dia pu nama Naifinijson (nama halaik dalam nyanyian natau), kalau nonot Naisunis dong pung afitin nama tapugbana. Jawab Pak Fiktor memberi penjelasan.
"Bapa, pohon fanik tu apa lai?" Tanya Sandy yang masih belum puas.
"Pohon Fanik itu istilah untuk sebut pohon tempat lebah bersarang. Jenis pohon fanik yang lebah biasa hinggap itu pohon bonak, beringin, kapok, terus masih banyak lai. Sudah lu pi tidur sudah, besok mau sekolah! Kalau mau tau banyak na lusa ikut Bapa dong pi panen lebah di hutan." Kata Pak Fiktor beranjak menuju kamarnya. Dalam hati Sandy senang sekali di ajak ke hutan untuk memanen lebah karena saat ini hal-hal seperti itu sudah langkah ditemui.
Pekat malam telah menjelma, membuyarkan mimpi-mimpi indah.
Sesuai rencana pagi ini Pak Fiktor bersama kedua temannya mengajak beberapa pemuda untuk pergi memanen lebah di hutan Neanetaug.
"Tadi malam beta su kastau Om Sarus ma bilang dia pung istri ada sakit jadi dia sonde bisa ikut." Kata Pak Nelis memberitahu teman-temannya.
"Na kermana su? Ketong harus bawah orang untuk Natau (Nyanyian pujian untuk para lebah dan pemilik pohon fanik). Atau ketong kasih tau Om Tian sa." Usul Pak Nimrot.
"Ohh betul ju, kastau dia sa." Ucap Pak Fiktor menyetujui usul Pak Nimrot.
Setelah selesai memberitahu Pak Tian dan para pemuda lainnya maka mereka kembali ke rumah masing-masing dan menyiapkan barang-barang yang akan dibawah.
Hari yang di tentukan pun tiba. Tidak lupa membawa beras hitam dan seekor ayam mereka berjalan menelusuri hutan belantara. Mereka harus berjalan kaki puluhan kilo meter untuk tiba di lembah hutan Neanetaug, salah satu hutan yang terletak di Amfoang, Nusa Tenggara Timur.
Dalam perjalanan mereka berkelakar sekadar menghilangkan rasa penat. Namun sepanjang perjalanan mereka harus tetap menjaga sopan santun. Masyarakat setempat mempercayai bahwa lebah merupakan permaisuri dan pohon adalah raja yang patut dihormati.
"Bapa, kapan ketong sampe? Beta pung kaki dong su sakit semua, dari tadi mendaki, menurun sa terus. Baru matahari su terbenam, beta su son sanggup jalan lai." Keluh Sandy berusaha menahan pegal-pegal di kakinya.
"Sedikit lai su sampe anak eee." Hibur Pak Nimrot.
"Itu kalimat dari tadi Om dong omong ma ketong sonde tau-tau sampe ju." Jawab Sandy mulai jengkel.
"Lu sendiri yang mau ikut kenapa sekarang mengeluh? Nanti lu pung cape akan terbayar saat lu makan oni mauf (bagian sarang lebah yang berisi telur, larva dan pupa lebah)." Sahut salah seorang pemuda.
Sesudah menempuh puluhan kilo akhirnya mereka tiba di lembah hutan Neanetaug, mereka beramai-rsmai mendirikan tenda untuk tempat menginap selama mereka berada di hutan ini. Tempat yang sangat asri, jauh dari kebisingan. Di sini kita dapat melihat kunang-kunang yang terbang menghiasi pepohonan.
"Indah sekali!" Gumam Sandy perlahan. Sebelum akhirnya Ia kembali ke tenda.
Krikkkk... krriiiikkk....kriikkkk.....
Suara binatang malam bercengkrama. Dingin malam menusuk sampai ketulang-tulang namun karena rasa lelah yang berlebihan mengakibatkan Para gerombolan pemburu lebah tersebut terbuai dalam alam mimpi.
Hari yang baru telah datang. Setelah selesai makan, dengan semangat mereka pergi mencari bahan dan alat yang akan di gunakan untuk memanen lebah.
"Ketong bagi tugas eee. Om Fiktor, Om Tian dengan beberapa orang pemuda pi cari kasih ketong kayu untuk buat tangga nanti. Kalau Om Nelis, Piter, Hans, Ben, dengan Metu tolong pi potong betung, sekalian cari anekbon (sejenis tali yang digunakan untuk mengikat tangga). Sedangkan beta sendiri dengan Sandy ketong dua pi cari Manu nitug (sirih hutan) dengan tani fuij (tali hutan) ko sebentar buat lug (alat yang digunakan untuk mengusir parah lebah)." Kata Pak Nimrot membagi tugas. Masing-masing menjalankan tugasnya dengan giat.
Nampak Pak Nimrot dan Sandy sudah menemukan bahannya dan yang dicari. Sesudah itu mereka mengikat manu nitug (sirih hutan) dengan menggunakan tani fuij (tali hutan) untuk di jadikan lug (alat yang digunakan untuk mengusir para lebah pekerja). Selesai membuat lug, Pak Nimrot dan Sandy mencari kulit kayu ban'unel untuk digunakan sebagai tali nanti.
Sementara di tempat lain Pak Fiktor bersama para pemuda nampak sedang membuat tangga. Pekerjaan dilakukan dengan senang hati, hari mulai petang. Pekerjaan pun di hentikan dan akan dilanjutkan pagi nanti. Seusai makan mereka duduk bersenda gurau di bawah naungan pohon.
"Bapa, kenapa tadi ketong buat tangga sonde pake bambu sa, kan sebentar mau panjat gampang sah." Tanya Sandy memprotes.
"Bambu tu kalau su kena cairan madu nanti balicin mati mampos, jadi lebih aman buat tangga dari kayu." Jelas Pak Nimrot.
Seminggu pun berlalu, mereka masih berada di hutan tersebut. Semua keperluan telah disediakan. Sore nantu mereka akan mulai memanen sarang lebah.
Ketika mentari kembali ke peraduannya, para pemanjat mau oni (lebah madu) sudah bersiap-siap untuk melakukan upacara adat terlebih dahulu. Seekor ayam dipotong sesaat ketika ayam selesai di masak, beras hitam pun dimasak.
Tetapi setelah semua makanan matang, mereka tidak langsung memakan makanan tersebut melainkan di gantung pada sebuah pohon, agar nanti setelah panen lebah selesai barulah mereka menyantap makanan tersebut.
Mereka mulai berdoa. Meminta perlindungan agar selalu dalam lindungannya ketika panen madu dilaksanakan. Ketika hari mulai gelap mereka satu persatu mulai memanjat kayu fanik dengan tinggi sekitar 60-90 meter tersebut untuk memanen sarang lebah.
Pemanenan lebah dilakukan saat malam hari agar tidak menganggu aktivitas para lebah. Selain itu mereka meyakini bahwa saat malam para lebah tidak terlalu jahat.
Mempertaruhkan nyawa demi mendapat madu murni yang dihasilkan oleh putri rimba nan cantik itulah julukan mereka untuk para lebah.
Para pemanjat mulai memanjat hau oni (pohon tempat para lebah membentuk koloni), natua mulai dilantunkan oleh Om Tian. Natua berisi puja dan puji beserta doa dilantunkan agar para pemanjat tidak jatuh dari pohon, agar para lebah tidak menyengat dan menyakiti. Ketika tiba di tempat sarang lebah bernaumg para pemuda mulai mengusir lebah menggunakan lug yang mereka bawah, setelah para lebah meninggalkan sarangnya, para pemanjat segera memotong sarang lebah.
Satu persatu sarang lebah dipotong kemudian diikat menggunakan tani fuij (tali hutan), lalu mauf (sarang lebah) dilipat kemudian diikat dan di gantung pada kenon'un (cabang utama). Setelah itu pemanjat mulai memeras oni nakaf (bagian sarang lebah yang menghasilkan cairan madu murni) dengan menggunakan tangan kosong. Cairan madu tersebut di simpan dalam sebuah foka (bambu betung).
Setelah cairan madu selesai diperas maka para pemanjat akan kembali turun ke kenon'un (cabang utama) untuk mengambil oni mauf (isi sarang lebah) yang sebelumnya telah digantungkan pada kenon'un (cabang utama).
Saat Pak Nelis hendak turun ke kenon'un Ia melihat seorang kakek yang duduk di salah satu ranting pohon, ketakutan menghantui batin Pak Nelis namun ketakutan itu ditepisnya jauh-jauh. Menurut cerita setempat terkadang kita akan menemukan arwah para leluhur. Tetapi ketika natau terus dilantunkan maka sang arwah tidak akan menyakiti kita.
Saat tiba di kenon'un (cabang utama), dengan perlahan Pak Nelis segera menurunkan oni mauf (isi sarang lebah) dan afoka (bambu betung) yang berisi cairan madu ke tanah menggunakan tali yang terbuat dari anyaman kayu ban'unel. Sedangkan para pemuda yang berjaga-jaga di bawah pohon mulai membuka ikatan yang berisi sarang lebah dan melepaskan afoka (bambu betung) dari ikatan tali tersebut.
Dengan perlahan para pemanjat mulai turun ke tanah melalui elak (tangga). Sesudah tiba di tanah semua anggita yang ikit memanen lebah akan berkumpul dan menikmati nasi hitam beserta daging ayam yang tadi telah di masak sebelum proses pengambilan sarang lebah. Pantangannya ialah saat menyantap nasi hitam nasi hitam maka para pemanjat tidak boleh menggunakan sendok.
Upacara adat pun selesai Pak Nelis bersama rombongannya kembali ke lak (tenda). Malam semakin larut, bulan purnama bersinar terang membuat suasana malam semakin indah.
Keesokan harinya mereka kembali bekerja.
"Sandy ambil saringan do." Perintah Pak Nimrot pada anaknya.
"Mau buat apa Bapa?" Tanya Sandy tak paham.
"Mau saring dia pung ampas ko kasih dia pu lilin tu di ini pemilik kayu, nanti bagi dengan madu sedikit." Jawab salah satu pemuda yang ikut serta memanen lebah.
Tanpa banyak berbicara Sandy pergi mengambil alat yang diminta oleh ayahnya. Dengan telaten mereka menyaring cairan lebah tersebut.
Total madu yang mereka hasilkan rata-rata 250 liter. Maklumlah karena mereka hanya memanjat satu pohon fanik saja. Satu pohon fanik biasanya terdapat 6-9 koloni lebah yang bersarang disetiap cabang-cabang kayu tersebut.
Memanen madu bukanlah perkara yang mudah, nyawa taruhannya. Tidak heran bila harga madu Amfoang sangat mahal.
Selain memiliki manfaat yang luar biasa, perjuangan sang petani lebah untuk memanjat hau oni (kayu tempat lebah bersarang sangatlah sulit.
"Alam telah menyediakan asalkan kita mau mengolahnya dengan baik." Seru Pak Tian ketika mereka berjalan pulang ke rumah. Rasa lelah telah terbayar lunas dengan perolehan cairan madu asli Amfoang.
Kepuasan terpencar di wajah mereka masing-masing, dalam hati mereka bersyukur karena Tuhan telah melindungi mereka sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak mereka inginkan.
Oleh: Zhindy Klali, Kelas X MIA di SMAN 1 Amfoang Utara.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
SMA Negeri 1 Amfoang Utara Salurkan Dana PIP untuk 184 Siswa, Kepsek Beri Teguran Keras Terkait Kedisiplinan
AMFOANG UTARA - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menyalurkan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 184 siswa dengan total nilai mencapai Rp317.700.000 (Tiga Ratus Juta Tujuh Ratu
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara
Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara
Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p
Semangat Demokrasi Warnai Pemilihan OSIS SMA Negeri 1 Amfoang Utara, Paslon 1 Terpilih Sebagai Ketua dan Wakil OSIS 2025/2026
Amfoang Utara, Kompas - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2025/2026 pada Jumat, 10 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di l